Batik Parang di Jersey PSIM: Identitas Lokal di Panggung Sepak Bola
PSIM Yogyakarta meluncurkan jersey kolaborasi dengan Adidas untuk musim 2026/2027 yang menampilkan motif batik Parang di bagian depan. Dirut PSIM, Liana Tasno, mengungkap perjuangan di balik pemasukan motif khas Yogyakarta ini. Langkah ini menunjukkan upaya mengangkat identitas lokal dalam industri sepak bola modern.
Apa yang terjadi
PSIM Yogyakarta, melalui kerja sama dengan Adidas, memperkenalkan jersey anyar untuk musim 2026/2027. Yang menarik perhatian adalah kehadiran motif batik Parang yang menghiasi bagian depan jersey. Liana Tasno, Direktur Utama PSIM, menceritakan bahwa memasukkan motif batik Parang ke dalam desain jersey bukanlah hal yang mudah. Ada perjuangan tersendiri yang harus dilalui hingga akhirnya motif khas Yogyakarta itu bisa tampil di seragam kebanggaan tim.
Sudut pandang
Pelatih:
Dari sisi tim, jersey dengan batik Parang bukan sekadar seragam. Ini adalah simbol kebanggaan yang bisa memotivasi pemain. Ketika kita memakai sesuatu yang sarat makna budaya, ada tanggung jawab ekstra untuk tampil maksimal di lapangan. Kami berharap semangat yang terkandung dalam motif ini bisa menular ke permainan kami.Pemain:
Bagi kami pemain, memakai jersey dengan batik Parang adalah suatu kehormatan. Kami merasa membawa identitas Yogyakarta ke mana pun kami bertanding. Ini membuat kami semakin dekat dengan suporter dan masyarakat. Kami ingin memberikan yang terbaik, tidak hanya untuk klub, tetapi juga untuk budaya yang kami wakili.Suporter:
Kami sangat bangga dengan langkah PSIM. Jersey ini bukan hanya pakaian, tapi juga representasi kecintaan kami pada budaya Yogyakarta. Melihat batik Parang di dada para pemain membuat kami semakin solid mendukung tim. Ini menunjukkan bahwa PSIM tidak melupakan akar dan selalu berusaha mengangkat kearifan lokal.Fakta kunci
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Motif | Batik Parang |
| Posisi | Bagian depan jersey |
| Musim | 2026/2027 |
| Kolaborasi | Adidas |
Apa artinya
Langkah PSIM Yogyakarta memasukkan batik Parang ke dalam jersey resmi tim adalah contoh nyata bagaimana sepak bola bisa menjadi medium pelestarian budaya. Di tengah arus globalisasi yang sering membuat klub-klub mengadopsi desain seragam yang seragam, PSIM justru memilih untuk menonjolkan identitas lokal. Ini tidak hanya membedakan mereka dari klub lain, tetapi juga memperkuat ikatan emosional dengan suporter dan masyarakat Yogyakarta. Ke depan, ini bisa menjadi tren bagi klub-klub lain untuk mengangkat kearifan lokal dalam atribut mereka, sehingga sepak bola Indonesia tidak hanya berkembang dari sisi prestasi, tetapi juga dari sisi budaya.